A letter to my parent
(based on a true story)

Hai Mom, hai Dad,
Dua puluh tahun lebih lamanya, aku telah meninggalkan tanah kelahiranku dan dua puluh tahun pula aku tidak mencicipi ”hidup bersama” kalian. Banyak penyesalan dalam hidupku, ketika aku harus meninggalkan kalian disaat aku masih sangat kecil. Kalian masih ingat kan, tempo itu duduk di pelabuhan Labuan Bajo menanti Tatamailau yang akan bertolak ke Dili? Aku masih ingat, waktu itu ibu pura-pura menghibur aku;si bungsu tapi matamu berkaca-kaca bu. Engkau menangis dalam senyuman, iya kan? Sudahlah bu, aku tahu apa yang engkau pikirkan. Itu bukan salahmu. Toh hidup perlu dteruskan, iya kan? Bu,aku senang karena dalam tempo 20 tahun, engkau masih melawat aku di Dili, di Kupang. Engkau sungguh ibu yang tidak akan pernah bisa kubandingkan dengan siapapun. Justeru engkau mesti berbangga bu,engkau satu-satunya ibu yang bisa melahirkan sebelas anak hingga aku yang bungsu. Tahukah engkau bahwa dewasa ini tak ada lagi sosok ibu yang bisa melahirkan anak segitu banyak. Perempuan sekarang lebih mengedepankan karier, prestise dan anak lebih dilihat sebagai hambatan dalam karier. Pun tak banyak pula perempuan yang tidak ingin mempunyai anak. Mungkin karena filosopi hidup telah berubah bu. Dulu orang masih menganggap banyak anak banyak rejeki dan di jaman Suharto orang getol mencanangkan program dua anak cukup. Bu, di jaman modern ini melahirkan anak itu adalah sebuah pilihan, pun juga sebuah penolakan. Tentu hal ini terasa asing bagimu bukan? Itulah bu, time flies and the world has been changing already. Ibu pasti tidak mengerti kan arti pernyataanku yang terakhir? Hehehe, Itu namanya Bahasa Inggris bu dan itu gunanya aku sekolah.
Bu, aku menulis surat ini karena aku ingin meminta maaf. Aku tak pernah menyangka bahwa pertemuan kita Agustus 2005 adalah sebuah perjumpaan terakhir dan aku mendapati engkau terbaring kaku 9 november 2009. Bu, sampai sekarang aku belum sepenuhnya yakin tentang kisah itu karena aku benar-benar schock. Jangan tanyakan kenapa aku schock bu, tapi coba ibu ingat-ingat lagi. Hari itu tanggal 8 november 2009 jam 23.00 waktu Indonesia tengah, kita bercanda via telepon. Ibu kala itu bertanya kapan libur nak dan aku masih ingat loh bu, kamu bermanja-manja dengan anak bungsumu ini sambil meminta uang 15juta untuk membeli sebuah rumah. Emang ada yah bu ya, sebuah rumah dengan harga segitu? Waktu itu katanya ibu sedang menjenguk ayah yang lagi kritis di rumah sakit karena HB-nya cuman 8. Benarkan begitu bu? Tapi bu, kenapa tanggal 9 nov 2009 justeru ibu yang meninggal secara tiba-tiba? Kenapa waktu menjenguk ayah yang kritis, ibu tidak bilang kalau ibu juga sakit. Kenapa bu? Kenapa ibu menyimpan semua beban hidupmu hanya untuk dirimu sendiri dan tak mau merepotkan orang lain. Ibu mungkin tidak tahu. Selepas berita kepergianmu banyak orang tidak percaya bu. Orang-orang di kampung yang biasa mengunjungi dan ngerumpi dengan ibu sama sekali tidak percaya akan berita kepergianmu. Aku dan anakmu yang pastor itupun sama sekali tidak percaya bu, karena waktu itu kan ibu tahu sendiri kalau kami di seberang lautan.
Tanggal 10 november 2009 aku memutuskan untuk pulang ke indo bu, karena kepergianmu adalah sebuah pukulan telak bagiku. Lagi-lagi, aku dan anakmu yang pastor itu bertemu di Bali dengan Qatar airways dan KLM. Jujur, kami benar-benar tidak kuat ketika melihat engkau terbaring selama tiga hari menunggu kedatangan kami. Tubuhmu mulai menghitam dan aku tak lagi bisa menyentuh tubuh kakumu. Bu, aku belum sempat lakukan apa-apa padamu, tetapi engkau malah mendahului aku. Aku tak tahu apakah itu yang terbaik buatmu  dan buatku tetapi dalam iman aku selalu percaya bahwa rancangaNya bukanlah rancanganku. Bu, bagiku engkau adalah surga yang kelihatan.

Hai Dad,
Aku barusan menulis surat buat ibu. Maklum, sudah sekian tahun aku tak pernah bersenda gurau dengannya. Kuharap engkau tidak mempersoalkan kenapa aku menyapa ibu terlebih dahulu ketimbang dirimu. Ini bukan soal hierarki tetapi ini soal gender yang sedari dulu engkau tanamkan. Masih ingat kan, ketika engkau selalu mengalah sama ibu? Dad, selama ini aku terus mencari definisi dari ayah yang hebat. Sekian tahun aku bergelimang dengan definisi itu. Ayah yang hebat adalah ayah yang bisa menyediakan segalanya buat anak-anaknya, termasuk juga menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang yang tinggi di sekolah kenamaan dalam negeri dan luar negeri. Menurutku itu wajar dad, karena orang tuanya punya penghasilan yang mumpuni. Tetapi engkau? Engkau tidak sekedar hebat tapi luar biasa dimataku. Engkau tak membekali aku dengan harta atau tumpukan rupiah berjuta, sebaliknya engkau membekali aku dengan disiplin, kerja keras dan teladan hidup. Sebuah investasi masa depan yang sangat menjanjjikan.
Dad, aku tahu bahwa kepergianmu menyisakan luka karena gajimu sedari tahun 1969 tidak dilunasin sampai engkau menuju liang lahat. Jangan engkau membawa dendam dengan ulah orang-orang yang rakus akan harta itu. Uang bukan segalanya, benar bukan? Cara engkau mendidik kami sebelas orang tanpa gaji adalah bukti nyatanya. Dad,mungkin kamu tidak tahu. Di hari pemakamanmu banyak orang menangis,termasuk pejabat-pejabat daerah tercengang ketika kisah hidupmu ditulis dalam bundelan. Mereka tidak pernah menyangka bahwa engkau adalah PNS yang rela tidak diberi gaji selam kurun waktu 40 tahun. Ada polemik kala itu, karena mereka ingin membuat acara pelepasan kedinasan untukmu tetapi kami anak-anakmu tidak setuju. Toh,jika memang engkau PNS seperti yang tertera di pusat, Jakarta lantas kenapa mereka tidak membayar gajimu? Gajimu telah dikorupsi! Hanya itu jawabannya. So, jangan lagi engkau pertanyakan uang itu, okey?
Dad, kepergian ibu masih menyisakan beban buatku. Aku tak bisa berpamitan disaat-saat akhir hidupnya. Atas dasar itulah tahun 2010 aku memilih pulang ke indo dan tinggal di Jawa, agar bila terjadi apa-apa denganmu,aku dengan mudah terbang ke Flores. Tapi lain padang, lain belalang dan lain lubuk lain ikannya. Pada hari wafatmu aku malah tidak bisa dating. Hari itu 28 Maret 2014 adalah hari raya Nyepi Dad. Hampis semua pesawat yang terbang ke Labuan Bajo dan Maumere tidak ada. Satu-satunya opsi kala itu adalah terbang via kupang tapi landing di Sumba dan itu memakan waktu seminggu. Bahkan, pada hari itu aku sempat berbicara dengan almarum bapak Lorens B.Dama untuk memperjuangankan sebuah tiket buatku, tetapi sayangnya beliaupun tidak bisa. Dibalik usahaku, aku akhirnya pasrah dan membiarkan providentia Dei (penyelenggaraan Ilahi) yang terjadi.
            Dad, aku menulis surat ini karena aku merasa bersyukur atas kehadiranmu dalam hidupku. Jangan engkau sesali misi pendidikan yang engkau geluti. Percayakan hal itu pada anak-anakmu yang sekarang. Kutipan kata-katamu dari Nelson Mandela the only way to change the world is education akan selalu kuingat. Pun motto hidupmu Ora et Labora (berdoa dan berkerja) yang tertulis di dinding rumah masih akan menjadi dalih yang kuat dalam perziarahan hidupku. Jika sosk ibu kugambarkan sebagai surge yang kelihatan maka engkau adalah sosok Allah yang kelihatan dalam setiap teladan hidupmu. Terima kasih Dad dan dakan kami dari surgamu.

By Koka- Semarang 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Carpe Diem

Gramatik A1-B1

Penghantar Belajar Bahasa Jerman