Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Kisah Cinta

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak.  Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya.  Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika,  datang badai menghempas pulau kecil itu  dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.  Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang  dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan.  Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku.  Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam.  Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu  Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta ...
Du hast mich nicht verlassen https://www.facebook.com/photo.php?fbid=462429700815&set=a.438332465815.221627.560245815&type=3&theater Am Ende des 1999, das war genau im Dezember kurz vor der Silvester, lebte ich in Atambua auf der Insel Timor, weil ich dort mein Gymnasium besuchtete. An dieser Zeit gab es noch die Krieg in Ost-Timor, von der ich meine Familienmitglieder nicht mehr wusste, wo sie waren und wohin sie fl Ü chteten. Ich hatte einfach keinen Kontak davon oder auf richtig gesagt “Verbindungslos” wobei wir damals nicht erlaubt worden sind, ein Handy zu haben. Das Jahr ging fast zu Ende und ein neues Jahr war schon vor der T Ü r. Mit zwei Kollegen aus Ost-Timor hatte ich keine Ahnung wo wir unsere Ferienzeit verbringen durften. Nach einer langen Überlegung haben wir uns entscheidet, unsere Schulpause im Internat bleiben zu lassen. Eine Woche später traf ich zufälling einen Arzt aus Betesdha-Krankenhaus von Jogyakarta. Er war zuständig f Ü r die Fl ...
A letter to my parent (based on a true story) Hai Mom, hai Dad, Dua puluh tahun lebih lamanya, aku telah meninggalkan tanah kelahiranku dan dua puluh tahun pula aku tidak mencicipi ”hidup bersama” kalian. Banyak penyesalan dalam hidupku, ketika aku harus meninggalkan kalian disaat aku masih sangat kecil. Kalian masih ingat kan, tempo itu duduk di pelabuhan Labuan Bajo menanti Tatamailau yang akan bertolak ke Dili? Aku masih ingat, waktu itu ibu pura-pura menghibur aku;si bungsu tapi matamu berkaca-kaca bu. Engkau menangis dalam senyuman, iya kan? Sudahlah bu, aku tahu apa yang engkau pikirkan. Itu bukan salahmu. Toh hidup perlu dteruskan, iya kan? Bu,aku senang karena dalam tempo 20 tahun, engkau masih melawat aku di Dili, di Kupang. Engkau sungguh ibu yang tidak akan pernah bisa kubandingkan dengan siapapun. Justeru engkau mesti berbangga bu,engkau satu-satunya ibu yang bisa melahirkan sebelas anak hingga aku yang bungsu. Tahukah engkau bahwa dewasa ini tak ada lagi soso...