Identitas Waktu
Identitas Waktu
By koka
Nama samaranku adalah kekekalan karena sifatku memang demikian;tak bisa dihentikan. Banyak orang melabeli aku sebagai uang. Dan tentang hal ini aku tak pernah paham kenapa aku menyandang predikat itu. Mungkin karena uang telah menjadi raja dunia, atau mungkin juga orang menyadari kalau eksistensiku sama pentingnya dengan uang. Mungkinkah? Akh ini hanya sebuah asosiasi, sebuah kemungkinan.
Selain itu, orang-orang membaptis aku dengan tiga nama sekaligus LAMPAU,KINI,YG AKAN DATANG. Aku tak habis berpikir kenapa aku diberi nama seperti itu,karena toh aku tidak berevolusi. Akh ini mungkin sebuah PR bagiku untuk merenungkan arti sebuah nama seperti adagium klasik mengatakan Nomen est omen(nama adalah tanda).
Aku tak tahu persis kapan aku dilahirkan, pun aku tak pernah tahu kapan aku berakhir. Sebuah mistery bukan? Aku adalah kekekalan. Dikalangan cendikiawan dan akademisi aku adalah sosok yang cukup disegani, oleh karena ini mereka tidak pernah membiarkan aku berlalu tanpa jejak,aku dijadikan sebagai sosok untuk mendulang rupiah berjuta,tetapi ironisnya kawula muda abab ini menilai aku sebagai sosok yang bisa komprimistis. Aku diibaratkan dengan sosok yang selalu stand by, padahal terang-terangan aku selalu berbeda dari menit ke menit,seiring peradaban manusia yang dinamis. Aku bahkan diyakini oleh orang-orang yang secara fisik lemah sebagai great healer,sehingga tak jarang mereka mengkultuskan time is a great healer. Dalam peradabanku sendiri, setiap menit itu berharga,sebab sekali aku diabaikan maka aku akan berlalu pergi, ibarat tamu yang datang tanpa permisi dan pulang pun tanpa pamit. Meskipun demikian, aku mau menegaskan bahwa aku bukan sosok yang gila hormat, seperti bapak-bapak wakil rakyat kita yang korup, juga bukan seperti pemimpin-pemimpin yang hipokrit. Aku polos adanya, tanpa tedeng aling-aling.
Karena latar belakangku yang tak ber-ibu dan tak ber-ayah aku sering bergaul dengan meraka-mereka yang berkomitmen dan aku kerap dimanage sedetail mungkin sehingga aku tak menemukan celah untuk sekedar menghela nafas,atau yang oleh sekalian orang lazim menyebutnya rush hour. Akan tetapi dibalik rutinitasku itu,aku mempunyai impian agar kehadiranku menjadi berkah bagi orang lain di sekitarku. Aku ingin mereka tidak menunda-nunda untuk menyapa aku, karena setiap kehadiranku adalah berarti,oleh karena itu aku sering menolak pernyataan orang-orang Jerman die Zeit ist noch nicht reif(belum saatnya), aku lebih mengiyakan apa yang orang-orang inggris katakan: jangan menunda sampai esok apa yang bisa kamu kerjakan hari ini. Ya,itulah identitas singkatku.
Komentar
Posting Komentar