HARGA DIRI


Di beranda rumah ini kumerenung.Pikiranku lagi penat atau lazim disebut error. Yah,kupikir ini saat yang tepat untuk menjadi "gila" part two. Gila ini bukan tak beralasan sobat,tapi ini semata-mata tentang harga diri.
Dalam perdagangan organ tubuh manusia tahuan 2020-an, anand Krishna membuat kalkukasi bahwa harga otak seorang cendekiawan akan begitu murah ketimbang harga otak seorang seniman,sebaliknya harga jantung seorang seniman akan begitu murah ketimbang harga jantung seorang cendekiawan. Jangan tanya kenapa,karena seorang cendekiawan sering menggunakan otaknya dan jarang menggunakan perasaannya,dan seniman sering menggunakan perasaannya dan jarang menggunakan rationya.Singkatnya
kalau mau membeli otak,belilah dari seorang seniman dan kalau mau beli jantung,belilah milik cendekiawan.
hmmm,,bisa aja teori si anand ini,tapi hati-hati Anand,jika para cendekiawan mengetahui ini,kamu bakal diusir dari indonesia.Kalau diusir sih masih mendingan,tapai kalau langsung diculik?? kamu tahu kan kalau main hakim sendiri tuh sudah menjadi hal yang lumrah di indonesia. Atau lebih tepat,aku mengutip kata-kata awasan ala orang Flores: "MULUT JAGA BADAN".

Lepas dari Anand kucoba berbalik ke falsafah china. Ternyata seorang anak laki-laki dalam keluarga china lebih dihargai ketimbang anak perempuan. Benarkah falsafah ini?? akh,,aku mah bukan orang china tapi baik juga untuk dibandingkan karena ini adalah pikiran I.Wibowo yang mengupas tentang krisis identitas etnis china yang pernah ia tuangkan dalam sebuah buku yang berjudul HARGA YANG HARUS DIBAYAR.
Menurutnya:

" kalau anak laki-laki dilahirkan tarulah dia di tempat tidur,kenalakanlah pakaian indah padanya dan semoga ia tumbuh menjadi kepala dari klien dan sukunya."

"Sebaliknya kalau anak perempuan dilahirkan taruhlah dia di atas lantai dan bungkuslah dia dengan pembungkus biasa dan berilah dia mainan dari ubin.semoga ia tak tak berbuat salah dan tak berbuat jasa.Semoga ia pandai menyediakan makanan dan tidak membawa aib bagi keluarganya."

hitung-hitung,pernyataan ini amat diskriminatif. Hey bung,,ini bukan zaman siti nurbaya loh,zaman ini udah amat getol yang namanya emansipasi. Lagipula hati-hati,karena kalau isteriku membaca tulisanmu ini,bisa-bisa kamu ditonjok...hihihi.

Akh...aku tak mau membandingkan pernyataan kontoroversial mereka itu,aku hanya lagi tidak puas dengan kata yang kudengar siang ini. Sungguh itu menggangguku. Seorang ibu dengan yakin mengatakan kalau ia sering memberi uang atau menyumbang untuk orang-orang yang berasal dari dunia ketiga,yang nota bene dia menuduh aku berasal dari dunia ketiga.
Keterlaluan,ternyata eksistensiku dibuat pengkotak-kotakan ibarat sebuah neo apartheid.
Keterlaluan dia menamakan dirinya katolik tapi koh melihat orang lain dengan sebelah mata.Dasar Farisi,hipokrit.
Hei ibu tua,aku emosi. you, belum tahu kalau dinegaraku hukum itu kadang tidak berlaku,darah bisa berganti darah.Harga diriku kau injak-injak.padahal serupiahpun aku tak pernah dapat darimu.Lagi pula engkau memberi dari kelebihanmu.Tahukah engkau kalau aku mengorbankan hidupku untuk misi ini?? Jika misi kemanusianmu kamu wujudkan dengan uang,maka misi kemanusianku adalah hidupku;jiwa dan ragaku. Uangmu tak bisa membeli hidupku.Atau kenapa tak kamu katakan saja secara jujur kalau kamu tidak mampu memberikan hidupmu untuk misi,lantas sebagai kompensasinya kamu memberi uang??

Harga diri tak punya harga. So,jangan coba-coba berspekulasi atau berteori.


by ranga rimpet(Koka)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Carpe Diem

Gramatik A1-B1

Penghantar Belajar Bahasa Jerman